Tuesday, April 25, 2017

Hadapi dengan berani💘

Allah memberikan ujian..insyaallah kami pasti bisa melewatinya.
Ada artikel menarik dari seorang Kawan di fB..saya copast mungkin dapat membantu bagi yang membutuhkan.





----------------------------------------------------




Menghadapi Stress dan tekanan bagi Orang tua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Oleh: Aloysius Hanung Rumekso
Menjadi orang tua bagi anak berkebutuhan khusus kadang membuat kita kehilangan jati diri dan berubah menjadi orang lain. Banyak hal yang sering kita pertaruhkan demi buah hati kita melewati masa-masa sulitnya untuk bisa menghadapi masa depannya. Tak jarang kita terjebak dalam situasi sulit secara fisik, emosional dan finansial.
Melewati ini semua kita menjadi sangat stress dan depresi terkungkung dalam menghadapi berbagai macam tantangan dan rintangan dalam membesarkan ABK kita.
Berikut gambaran tahapan Stress yang sering dihadapi oleh orang tua ABK :
1. Denial (Penolakan)
Tahapan dimana kita tidak menerima dan menolak bahwa anak kita lahir tidak seperti anak-anak seusianya.
2. Anger (Marah)
Tahap dimana ketika kita sudah mulai bisa menerima dan mengakui, namun sering kali tanpa disasari kita dibayangi Oleh perasaan marah. Marah pada diri sendiri, pasangan kita, dokter, therapist, lingkungan kita atau bahkan marah kepada Tuhan. Why me God?
3. Bargaining (Tawar-menawar)
Tahap dimana kita sudah mulai berfikir  untuk menerima keberadaannya,  namun dengan berbagai dalih. Baiklah asal anak ini tdk sakit-sakitan atau asalkan anak ini bisa mengurus dirinya sendiri, dan berbagai macam sikap pengalihan.
4. Depression (Depresi)
Tahap ketika tawar menawar tidak berlaku lagi, maka orang tua menjadi stress dan depresi.
5. Acceptence (Penerimaan)
Pada tahap ini, orang tua sudah mulai bisa menerima dan mulai berdamai dengan kondisi yang ada. Namun kadang kita terjebak dengan situasi, menerima secara pesimis atau menerima secara optimis.
Saya mencoba untuk merangkum bagaimana sikap kita sebagai sebagai orang tua ABK dalam menghadapi stress dan tekanan yang membuat kita lebih ringan dalam memperjuangkan hak hidup ABK kita secara Psikologis :
1. Kesabaran yang berlipat.
Menjadi orang tua biasa tidaklah mudah. Dituntut kesipan fisik dan Psikologis yang matang. Kita akan diperhadapkan pd pertanggungjawaban yg lebih rumit. Bukan hanya menyangkut kebutuhan secara materiil namun lebih dari itu. Jadi, menjadi orang tua adalah pekerjaan yang sulit. Apalagi menjadi orang tua ABK. Untuk itu diperlukan kesabaran dalam menghadapi tantangan dari hari ke hari. Sebagai orang tua ABK kita ibarat mengikuti lomba marathon, tidak ada istilah istirahat, kita harus makan-minum sambil berlari. Tapi marathon kita tidak pernah berujung, jadi jangan berfipikir untuk menang, tapi berlarilah hingga mencapai garis finish.
2. Kita tidak sendirian.
Besarkan hati bahwa banyak orang tua lain yang juga memiliki masalah yang sama dgn kita. Carilah dukungan sosial dan buat jejaring. Sharing, berbagi pengalaman dan trik dalam menghadapi berbagai masalah akan membuat kita merasa lebih kuat dan nyaman secara psikologis.
3. Kita adalah Superhero.
Yakinkan diri bahwa sebagai orang tua ABK, apa yg kita kerjakan adalah hebat. Ibarat Superhero kita disanggupkan mengatasi semua permasalahan anak kita. Kita jauh lebih tau dari siapapun. Misalnya bagaimana mengatasi anak kita saat Tantrum atau kejang, dsb. Dan kita bisa menjadi apa saja. Kita adalah therapist, dokter, perawat, guru dan teman bagi anak ABK kita.
4. Kita bukanlah manusia yg sempurna.
Sebagai orang tua ABK seringkali kita dihadapkan pd suatu pilihan yg sulit. Namun kita dituntut utk segera mengambil keputusan. Lakukan dan ambil keputusan yg terbaik dan jangan menengok ke belakang. Yakinlah bahwa apapun yg kita ambil adalah suatu keputusan yg terbaik. Memang kita tidak bisa selalu benar. Tidak ada manusia yg sempurna, kita bisa saja salah. Namun terus maju dan jangan pernah menyesali apa yg pernah kita putuskan. Move on dan terus pandang ke depan.
5. Memaafkan diri sendiri.
Jangan selalu membawa rasa bersalah. Hal ini tdk akan membuat kita lbh baik. Tidak ada jawaban yang benar utk setiap keputusan yang sulit. Memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri membuat kita akan jauh lebih ringan dalam melangkah ke depan utk anak kita.
6. Percaya pada instink kita.
Kita jauh lbh mengerti ttg anak ABK kita. Ketika kita merasa tdk mudah utk dimengerti oleh profesional (dokter, therapist, consultant atau guru) pergilah ke ahli lain utk mendapatkan second opinion. Jangan pernah merasa takut utk berjuang bagi ABK kita. Jika mereka mungkin ahli dibidangnya,  kitapun adalah ahli dalam memahami anak kita.
7. Therapy adalah bermain dan bermain adalah therapy.
Jangan biarkan anak kita tersiksa oleh therapy, tapi biarkanlah mereka merasa bahwa therapy adalah bermain. Jd pastikan bahwa anak menikmati sesi therapy dengan caranya sendiri. Waspadai ketika anak tdk tertarik atau respon dengan therapy yang kita pilihkan. Mungkin ada sesuatu yg salah disana.
8. Rayakan hal-hal kecil.
Rayakan hal-hal yang mampu dicapai anak ABK kita meskipun mungkin suatu hal yang kecil bagi anak non-ABK lainnya.
Sharingkan hal-hal pencapaian tersebut kepada orang-orang yang kita cintai dan mengasihi anak ABK kita. Jangan mudah terprovokasi dengan orang-orang yang tdk memahami ABK kita.
9. Jangan membanding-bandingkan.
Secara umum setiap anak berbeda satu dengan yang lainnya. Begitu juga tantangan dan pertumbuhan yg dilaluinya. Mereka akan tumbuh dengan kecepatan masing-masing jadi jangan pernah membandingkan ABK kita dengan ABK lainnya. Jangan pula membanding-bandingkan apa yang dilakukan orang tua lain dengan ABK-nya.
10. Luangkan waktu untuk bermain dengan anak.
Nikmati kebersamaan dengan ABK kita. Sesibuk apapun kita, sebaiknya luangkan waktu utk peran kita sebagai orang tua untuk bermain dan menikmati kebersamaan.  Tidak ada kualitas tanpa kuantitas.
11. Jangan pernah kehilangan jati diri.
Jangan membuat label sebagai "orang tua ABK" sebagai satu-satunya jatidiri kita.  Kadang kita juga harus memiliki jatidiri kita sendiri. Fokuslah pada hobi dan pekerjaan kita juga. Kita berhak untuk menikmati hidup kita.
12. Perhatikan keutuhan perkawinan kita.
Mempertahankan  perkawinan adalah suatu perjuangan, apalagi jika kita memiliki ABK.
Berikan waktu untuk pasangan kita dan perjuangkan perkawinan adalah cara yg bijak dan bertanggung jawab atas ABK kita.
13. Peliharalah rasa humor dan jangan terlalu sensitif.
Lihatlah setiap masalah yang terjadi dengan cara pandang yg lebih ringan. Jangan terlalu sensitif dan terprovokasi secara emosional dengan apa yg dikatakan orang lain. Karena tidak ada yang menyakiti diri kita kecuali diri kita sendiri.
14. Kita berhak utk bahagia dan diperhatikan.
Selama ini kita sudah terlalu banyak untuk memperhatikan dan merawatnya ABK kita. Ambil waktu ("me time") karena kita juga berhak untuk mendapat perhatian dan merasa bahagia. Mintalah waktu untuk diri sendiri dan nikmatilah....
Semoga tips diatas membantu kita untuk terbebas dari stress dan kebosanan dalam memperjuangkan hak hidup ABK kita yang tidak pernah berujung.
Semoga membantu....
Source:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10208125141638049&id=1585825645


No comments:

Post a Comment

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES