Saturday, July 22, 2017

Berdamai dengan kegagalan



Dear Readers...


Pernahkah kita menghitung berapa banyak kegagalan dalam kehidupan yang telah kita lalui?

Momen apakah yang paling membuat kita terpuruk?

Atau justru membuat kita bangkit?

Apakah menjadikan kita lebih kuat?

Beberapa peristiwa yang sangat berkesan dalam hidup mengajarkan saya untuk berdamai dengan kegagalan.

Mulai sering dibully secara verbal saat SMU, gagal masuk jurusan yang saya harapkan saat S2, mengalami keguguran, hingga yang terakhir gagal masuk S3.

Mungkin masih banyak pengalaman "ajaib" lainnya, tapi kejadian diatas adalah masa-masa saya benar-benar belajar berdamai dengan kenyataan.

Setiap manusia pasti mengalami kegagalan dalam kehidupan bukan? Ditolak di sekolah yang diharapkan, melamar kerja kemudian ditolak, Jatuh Bangun saat berbisnis, mengalami penipuan saat membuka usaha, entah apalagi macamnya.

Seiring berjalannya waktu akhirnya saya belajar menjalani kegagalan itu dengan beberapa hal.

Selalu Ada Campur Tangan Tuhan

Untuk bisa menuliskan ini di urutan pertama, ternyata memerlukan proses yang panjang.

Sering kali saat berada di fase penolakan, kadang terlupa bahwa Allah memberikan yang terbaik bagi kita, meskipun bukan yang kita inginkan. Istighfar sebanyak-banyaknya, itu yang saya lakukan.

Kegagalan bisa bermakna agar kita lebih dekat denganNya, belajar menjadi pribadi yang lebih baik, berusaha lebih keras, atau mencari alternatif yang lebih bermanfaat.



Menghadapi kenyataan

Salah satu hal yang sangat sulit diterima adalah menghadapi kenyataan bahwa kita gagal.

Awalnya pasti shock, terkejut, blank...setelah itu pingsan. Hahaha enggaklah.

Hadapi meskipun pahit. 


Sesaat memang perlu waktu untuk menyadari bahwa "Hah...benarkah saya gagal?". Di fase inilah terkadang hati melakukan penolakan.

Selalu ada pertanyaan "Mengapa saya?", terkadang saya jawab sendiri "Mengapa bukan kamu?"

Sampai akhirnya mulai sadar "Baiklah...saya gagal".



Menenangkan diri

Jika tidak sanggup berada di keramaian, menepi dan menenangkan diri.

Jika ingin menangis, menangis saja. Tak ada ruginya. Justru bisa melepaskan beban yang selama ini menekan perasaan. Atau tidur (hahaha..yang ini tidak perlu ditiru).


Saat keguguran, saya hanya diam...sangking sedihnya sekian lama menunggu kehadiran buah hati. Tak sanggup  menangis, saya terdiam seharian. Tak bisa saya gambarkan kesedihan saat itu.





Meluapkan emosi dengan cara positif 

Kegagalan pasti membuat kita emosi. marah, sedih, galau, cemas, dan khawatir.

Setelah diri merasa tenang, tak ada salahnya meluapkan emosi dengan cara positif.

Sibukkan diri dengan mengaji, berdzikir bagi yang muslim, atau membaca kitab bagi yang beragama lain. Ada suatu masa saya berdiam diri di masjid, sholat, mengaji, berkeluh kesah didalam hati (semoga tidak dianggap riya'), sampai menangis tersedu-sedu disana.

Atau berbagai aktifitas lainnya, seperti membaca buku, mendengarkan musik, menonton film, menulis novel, nge-blog, berkumpul dengan komunitas. Apa saja yang bisa memberikan energi baru.



Mencari Hikmah 

Kembali lagi ke pasal pertama, selalu ada campur tangan Tuhan disana.

Setiap kegagalan pasti ada hikmah didalamnya. Saatnya bermuhasabah diri, merefleksi diri, melakukan introspeksi.

Berkaca dari proses yang telah dilalui, lalu bagaimana bisa gagal.

Walaupun berat, tetapi di fase inilah hati terasa dikuatkan. Yakin bahwa Allah memberikan ujian, pasti ada hikmahnya.
Allah akan menundanya hingga kita berusaha lebih keras lagi, atau Allah akan mengganti dengan yang terbaik, atau mungkin saja kita dihindarkan dari kemudharatan oleh-Nya.




Curhat dengan Orang yang Positif Thinking

Berhubungan dengan banyak orang, maka kita akan tahu siapa sama kawan kita yang mampu memberikan semangat saat terjatuh.

Selalu bersama kawan yang mempunyai pikiran positif saat kita gagal, adalah suatu energi tersendiri.

Hindari orang yang hobi nyinyir pada saat mengalami kegagalan. Energi positif pada diri kita akan hilang berhamburan kalau bertemu dengan orang seperti ini. Abaikan!




Berikan target waktu! Saya harus bangkit! 

Semua orang pernah gagal, dan mereka bangkit!

Saya selalu ingat kata-kata itu. Sebisa mungkin tidak berlama-lama larut dalam kesedihan akibat kegagalan.

Berikan target berupa waktu!
Ingin berapa lama bersedih?
Ingin berapa lama galau?
Ingin berapa lama mencari hikmah?
Ingin berapa lama curhat?

Tentukan waktunya..lebih cepat lebih baik bukan?

Segera bangkit dan memperbaiki diri, kuatkan tekad, dan berusaha lagi.



Balas Dendam Terbaik adalah Menjadi Lebih Baik 


The best revenge is being success.

Terkadang kegagalan bisa menjadi kekuatan menjadi orang yang lebih baik.
Dengan berusaha lebih keras, proses tidak akan mengkhianati hasil.

Saat gagal masuk jurusan yang saya harapkan sewaktu S2, yang bisa saya lakukan adalah mencintai jurusan baru saya. Ilmu baru yang harus saya tekuni, saya pelajari dengan keras. Kurang tidur, sakit maag, sakit typus, anemia mewarnai perjalanan menempuh kuliah.

Alhamdulillah berkat dijodohkan teman-teman dan dosen-dosen, akhirnya saya bertemu jodoh saya hehehe, ya rekan sekelas di jurusan yang sama. Sekolah dapat bonus 😅 atau kebalikannya Jodoh bonus sekolah ya?

Saat gagal di bidang akademis, ada orang tertentu suka mengejek saya. Sambil tertawa-tawa mengatakan kalau suatu hari saya menjadi dosen, anaknya tidak akan dikuliahkan dikampus saya.

Kata-kata itu saya ingat sampai detik ini, dan saya jadikan penyemangat saat saya studi S2. Lulus dengan IPK 3,88, dan mewujudkan impian saya yang pernah dia tertawakan.






Ternyata banyak hal bisa menjadi penyemangat diri, termasuk ejekan, hinaan. Tentunya perlu proses pengolahan yang tidak mudah, namun jika tawakkal, berusaha, dan percaya diri, insyaallah selalu ada jalan.


Panjang yaa ceritanya...semoga readers tidak mengantuk hehehe.

Semoga bermanfaat...

Kalau readers pernah mengalami kegagalan apa yang terberat?
Dan bagaimana cara mengatasinya?
Share yuk di kolom komentar ♥




5 comments:

  1. Kalau saya, gagal adalah kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi :-)

    ReplyDelete
  2. Prinsip terakhir saya suka banget tuh . Balas dendan terbaik adalah menjadi lebih baik. Mungkin kalau orang lain belum bisa melihat, ya minimal diri kita yang merasakan apakah kita udah menuju ke arah ya lebih baik

    Salam kenal ya, mb 😊😊

    ReplyDelete
  3. Setuju. Kalau kita gak coba untuk berdamai terlebih dahulu, bagaimana mau mulai untuk belajar dari kegagalan

    ReplyDelete
  4. Sedihnya pernah keguguran yaa. Rasanya dunia tidak berpihak pada kita. Tapi selalu ada cara untuk meredam sedih dan menghilangkan perasaan kehilangan dan kegagalan. Selama kita ikhlas dan berusaha keras menuju harapan hidup yang lebih baik. salam kenal.

    ReplyDelete
  5. Tabik. perjuangannya sangat luar biasa mbak....

    ReplyDelete

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES